Menerima Jasa Desain Rumah, Desain Interior, RAB, Pembuatan Maket, Pemasangan Pagar Besi, dan Lukisan Mininimalis. Jika Berminat HUB. 0852-5548-8091 --

------------------------------------------------------------------------------------


Menerima Jasa Pemasangan Iklan Usaha Di Blog Kami Jika Berminat Hub 085 255 488 091 Pin BB 5C64CC74---


Breaking News

Senin, 26 Januari 2015

Rumah Adat Tradisional Sinjai

GAMBARAN UMUM KAB. SINJAI
A. Letak Geografis, Topografis, dan Administratif
Kabupaten Sinjai terletak di Selatan bagian Timur Propinsi Sulawesi Selatan dengan Ibu kotanya Sinjai. Berada pada posisi 50 19' 30" sampai 50 36' 47" Lintang Selatan dan 1190 48' 30" sampai 1200 0' 0" Bujur Timur. Disebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bone, di sebelah Timur dengan Teluk Bone, di sebelah Selatan dengan Kabupaten Bulukumba, dan sebelah Barat dengan Kabupaten Gowa
1. Dari 8 Kecamatan itu, terdiri dari :68 desa/Kelurahan Desa:
2. Di Kecamatan Sinjai Barat, 8 Desa /Kelurahan ,
3. Di Kecamatan Sinjai Borong, 7 Desa/Kelurahan,
4. Di Kecamatan Sinjai Selatan, 10 Desa/kelurahan,
5. Di Kecamatan Sinjai Timur , 10 Desa /kelurahan,
6. Di Kecamatan Sinjai Tengah,10 Desa/kelurahan,
7. Di Kecamatan Sinjai Utara, 7 kelurahan,
8. Di Kecamatan Bulupoddo, 6 Desa,
9. Di Kecamatan Tellulimpoe, .10 Desa.                                            

        Berdasarkan situasi Geografis, daerah Kabupaten Sinjai beriklim Sub Tropis. Curah hujan rata-rata 2.772 sampai 4.847 milimeter dengan 120 Deep rain pertahun. Musim Hujan dimulai Februari s/d Juli dan musim panas mulai Agusutus s/d Oktober serta kelembaban mulai November s/d Januari. Sinjai berada pada ketinggian antara 25 sampai 1.000 meter diatas permukaan laut.
       Kondisi Demografis Berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sinjai Tahun 2005, jumlah penduduk yang mendiami kabupaten ini sebanyak 220.430 yang terdiri atas 105.853 orang penduduk laki-laki dan 114.477 penduduk perempuan dengan laju pertumbuhan 1,04 persen. Keseluruhan jumlah penduduk tersebut menempati wilayah yang luasnya 819.96 km atau 1,25 persen dari luas wilayah daerah Provinsi Sulawesi Selatan.
    Luas daerah 8.1996 Ha, dengan 4,62 persen berada pada ketinggian 25 m diatas permukaan laut, 9,74 persen berada pada ketinggian 100 m diatas permukaan laut, 55,35 persen  berada pada ketinggian 100 – 500 m dari permukaan laut, 21,18 persen berada pada ketinggian 500 – 1000 m dari permukaan laut dan 21,18 persen berada pada ketinggian diatas 1000 m dari permukaan laut
     Berdasarkan klasifikasi menurut ketinggian diatas permukaan laut (dpl), wilayah kabupaten terbagi ke dalam 5 (lima) klasifikasi ketinggian, dengan luasan sebagai berikut:
1.    Area dengan ketinggian 0 - 25 meter dpl , seluas 3.788 ha
2.    Area dengan ketinggian 25 - 100 meter dpl, seluas 7.983 ha
3.    Area dengan ketinggian 100 - 500 meter dpl, seluas 45.535 ha
4.    Area dengan ketinggian 500 - 1000 meter dpl, seluas 17.368 ha
5.    Area dengan ketinggian > 1000 meter dpl, seluas 6.569 ha

B.  Agama, Adat dan Kepercayaan
      Pada umumnya masyarakat sinjai beragama Islam. Islam pada dasarnya sudah terintegrasi ke dalam Ade’ Eppa’e sejak posisi adat Guru sudah dimasukkan sebagai pemangku adat. Karena posisi Guru di situ juga bertugas untuk menyebarkan agama Islam. Jumlah penduduk di Kabupaten Sinjai 98% beragama Islam, 2% dari penduduk Kabupaten Sinjai beragama Kristen dan Protestan. Hal lain adalah hampir semua simbol-simbol khususnya dalam pembuatan rumah adat penuh dengan makna yang Islami. Dengan demikian Islam memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap kearifan budaya Karampuang.
     Tetapi belakangan ini, komunitas adat pernah mengalami pengalaman pahit dengan beberapa orang yang mengaku Islam, menginterpretasi ritual adat sebagai sesuatu yang menyimpan dari ajaran agama Islam. Mereka dengan keras menentang dan bahkan menurut informasi Puang Gella, pernah ada rencana untuk menyerang komunitas tersebut demi menghentikan proses ritual yang dilakukan, namun hal itu tidak pernah terwujud.

C.  Kosmologi
Konsep arsitektur bermula dari suatu pandangan hidup ontologis, bagaimana memahami alam semesta secara “universal”.Filosofi hidup masyarakat disebut “Sulapa Appa”, menunjukkan upaya untuk “menyempurnakan diri”.Filosofi ini menyatakan bahwa segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna jika berbentuk “Segi Empat”.Filosofiyang bersumber dari “mitos” asal mula kejadian manusia yang diyakini terdiri dari empat unsur, yaitu : tanah, air, api, dan angin.
Bagi yang berfikir secara totalitas, maka rumah tradisionalnya dipengaruhi oleh pemahaman: “Struktur kosmos” dimana alam terbagi atas tiga bagian yaitu “alam atas” , “alam tengah”, dan “alam bawah”,rumah tradisional dari tiga tingkatan yang berbentuk “segi empat”, dibentuk dan dibangun mengikuti model kosmos menurut pandangan hidup mereka, anggapannya bahwa alam raya (makrokosmos) ini tersusun dari tiga tingkatan, yaitu alam atas atau “banua atas”, alam tengah “banua tengah” dan alam bawah “banua bawah” . Benua atas adalah tempat dewa-dewa yang dipimpin oleh seorang dewa tertinggi yang disebut “Dewata Seuwae” (dewa tunggal), bersemayam di “Botting-Langik” (langit tertinggi).Benua tengah adalah bumi ini dihuni pula oleh wakil-wakil dewa tertinggi yang mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi serta menggawasi jalannya tata tertib kosmos.Benua bawah disebut  “Uriliyu” (tempat yang paling dalam) dianggap berada di bawah air. Semua pranata-pranata yang berkaitan dengan pembuatan diungkap dalam bentuk makna simbolis-filosofis, yang diketahuinya secara turun-temurun dari generasi kegenerasi.

D. Sosial dan Budaya
     Latar belakang geografis, prasejarah dan sejarah Sulawesi Selatan telah melahirkan kekayaan budaya yang menarik.Seseorang dapat mengamati, menikmati berbagai pengalaman pada keunikan budayanya, itu masih dapat ditemukan di beberapa daerah sinjai misalnya pada upacara religius, upacara adat, seni tradisional, serta arsitektur tradisionalnya.
     Dalam sistem sosial masyarakat Kabupaten Sinjai ada strata sosial masyarakat yang menentukan arsitektur rumah tinggal mereka.Pola ruang, ornamen, dan besaran rumah tradisional mempunyai korelasi positif dengan tingkat strata sosial pemiliknya.Ukuran ruang, pintu dan jendela rumah relatif besar.Kemungkinan kondisi ini diwujudkan untuk mengeliminir temperatur udara panas terutama yang lokasinya di daerah hilir dan pantai.
  1.  Arung (Raja) yang memerrintah, yang lazim dikategorikan berdarah murni yang bergelar Datu, termasuk Ana’Mattola (Putra Mahkota)
  2. Anakarung (bangsawan), yang ada pertalian darah dengan raja yang diklasifikasikan lagi dalam beberapa bagian.
  3. Mardeka(Jemma Lappa’) termasuk tau Tongeng Karaja, yang masih mempunyai darah bangsawan, tetapi tidak dapat disebut Anakarung lagi, yaitu rakyat biasa yang jumlahnya terbanyak.
  4. Ata (hamba) abdi yang terdiri dari :
    • Ata samina’ yaitu hamba yang tidak dapat dipisahkan dengan Raja atau Bangsawan, yang dapat saling waris – mewarisi dengan Puangnya (tuannya) baik materil maupun inmateril.
    • Ata Mana’ yaitu hamba yang dibeli (lazim sanalnya sendiri yang menjualnya untuk merampas barang – barang pusaka bersama), atau orang yang dipidana mati tetapi diberi pengampunan, dapat hidup sebagai abdi raja/ Bangsawan, atau ditawan dalam peperangan.
    • Ata Passaromase, yaitu hamba yang mengabdikan diri untuk dapat hidup, termasuk orang – orang yang kalah main judi atau berhutang, tetapi tak dapat membayar utangnya (pandeling).

RUMAH ADAT SINJAI
A. Denah 
Keterangan:
  1. Lontang rilaleng, terdiri dari    : ruang sholat
  2. Lontang rotongngah, terdiri dari: ruang istirahat
  3. Semi pablik, terdiri dari   : tamping
  4. Lego-lego rilaleng
  5. Lego-lego riolo

B. Bentuk
     Seperti terdapat dalam banyak hal rumah tradisional, secara jelas rumah adat sinjai terbagi atas tiga dimana terlihat sebagai menifestasi dari kosmologi yang adanya dunia atas, dunia tengah dan dunia bawah. Selain itu terlihat jelas adanya personifikasi rumah terdiri dari kepala, badan dan kaki. Rumah adat sinjai selalu berbentuk rumah panggung, terdiri atas kolong di bawah dan kamar-kamar, dapur, dan ruang tamu di atas. Rumah adat yang terdapat di Benteng Somba Opu ini merupakan rumah berjenis saoraja.
1.  Tampak Depan

2. Tampak Samping Kanan

3. Tampak Samping Kiri
4. Tampak Belakang


B. Struktur,bahan dan konstruksi
  1. Awa Bola
    susunan struktur yang terdapat pada bagian awa bola, antara lain:
    a. Umpakatau Palangga alliri
         Palangga alliri adalah struktur paling bawah pada sebuah konstruksi bangunan rumah adat tradisional khas Sulawesi Selatan.Palangga yang hampir sama dengan pondasi, tapi ini termasuk pondasi setempat karena hanya pada tiap – tiap titik dan tidak menerus mengikuti bentuk rumah. Umpak terbuat dari beton atau campuran.
        Palanggaalliri berfungsi sebagai kaki rumah, tempat pijakan alliri.Pemisah antara alliri dengan muka tanah, tujuannya agar alliri yang berbahan kayu tidak keropos apabila menyentuh muka tanah langsung.
                                     
    b.    Alliri’      
          Alliri’ jika diasumsikan ke rumah pada umumnya adalah tiang atau kolom.Alliri’ merupakan istilah atau bahasa daerah yang artinya kolom atau tiang.Alliri’ di dalam rumah adat tradisional berfungsi sebagai penopang berat dari rumah adat itu sendiri, atau sebagai kaki untuk berpijak.
    Pada survey Rumah Adat Tradisional Kabupaten Sinjai ini, memiliki alliri’ yang berpenampang kotak.Artinya pemilik rumah adat ini adalah keturunan bangsawan.Jadi Alliri’ juga berfungsi sebagai simbol stratafikasi sosial pemilik dari sebuah rumah adat. Alliri’ terbuat dari sebatang balok kayu dengan ukuran tertentu.
    c.    Pattoddo’
    Alliri’ ditunjang oleh beberapa konstruksi sambungan yang disebut “Pattoddo”, berfungsi untuk menghubungkan/menyambung antara tiang satu dengan tiang yang lainnya dengan arah melebar rumah.Bahan biasanya dari kayu jati, batang kelapa, dan lain-lain.Tetapi pada rumah adat ini menggunakan balok kayu pipih sebagai Pattoddo’.


    d.    Pallangga dan pallangga caddi/ tunabbe

    1)    Pallangga
    Pallangga (Makassar) atau Arateng (Bugis), terbuat dari balok pipih yang panjangnya lebih sedikit dari panjang rumah.Berfungsi sebagai Penahan berdirinya tiang-tiang rumah, dan Sebagai dasar tempat meletakkan pallangga caddi/tunabbe.Bahan yang digunakan dari bahan batang kelapa, lontar, bambu dan lain-lain.Tetapi pada miniatur rumah adat ini menggunakan balok kayu pipih sebagai Pallangga.
    2)    Pallangga caddi/tunabbe
    Pallangga caddi/tunabbe terbuat dari balok kayu dengan ukuran yang agak kecil, yang terletak diatas pallangga.Pallangga caddi/ tunabbe berfungsi sebagai tempat tumpuan dapara’ atau lantai.Pada rumah adat ini menggunakan Pallangga caddi/tunabbe.
2. Ale Bola
a. Lantai
Lantai juga dapat menjadi simbol stratafikasi sosial pemiliknya, pada rumah adat ini lantainya terdapat beda tinggi, dalam Bugis Makassar lantai yang rendah disebut Wattampola danlantai yang lebih rendah disebuttamping. Lantai tersebut berbahan dasar lembaran papan atau dapara’.Dengan melihat ciri – ciri dan kriteria yang terdapat pada konstruksi lantainya, maka dapat disimpulkan bahwa rumah adat ini merupakan rumah adat kalangan bangsawan atau raja yang biasa disebut Saoraja.
b.    Dinding
Dinding yang dipakai untuk bahan penutup digunakan papan, dengan sistem konstruksi ikat dan jepit.Konstruksi balok anak,merupakan penahan lantai, dan bertumpu pada balok pallangga lompo/arateng. Dinding yang melekat pada kolomnya itu diberi paku agar strukturnnya tetap kuat.
c.    Pintu
Di bagian depan  adalah  pintu (babang/tange). Fungsinya untuk jalan keluar/masuk rumah.Tempat pintu biasanya selalu diletakkan pada bilangan ukuran genap agar terhindar dari bencana.Dirumah ini, pinti diletakkan pada dep
an  ke 2 dan 4.

d. Jendela (Tellongeng)
Jumlahnya ada 17 buah. Tiga Tellongeng di bagian depan, sepuluh Tellongeng di sebelah kanan dan kiri, dan empat Tellongeng di bagian belakang. Jumah teralinya 5 buah yang memiliki makna pemiliknya adalah Saoraja atau bangsawan.




3.    Ale Bola
a.    Timpa Laja
Atap berbentuk prisma, memakai tutup bubungan yang disebut timpa laja.Timpa laja Rumah Adat Sinjai dalam Kompleks Miniatur Budaya Sulawesi Selatan, di Benteng Somba Opu memiliki lima buah timpa laja. Timpa laja 5 susun berarti rumah tersebut adalah rumah raja yang sedang memengang kekuasaan.Selain itu terdapat 2 tingkat timpa laja yang masing-masingnya ada 2 susun, mempertegas bahwa pemilik rumah adalah keturunan raja.Timpa Laja ini terbuat dari kayu Sira’.

b.    Penutup Atap
Atap sirap berbentuk segitiga sama kaki yang digunakan untuk menutup bagian muka atau bagian belakang rumah. Terbuat dari kayu seppu (bayam).

4.  Ornamen atau Hiasan
Seperti rumah adat yang ada di Sulawesi, rumah adat Sinjai memiliki ornamen seperti timpa laja, tangga ataupun jendela.
a. Terali (Sappo Telongngeng)
Rumah adat ini memakai terali (Sappo Telongngeng) yang berjumlah 5 yang berarti rumah Saoraja atau rumah bangsawan.


b   Sappo Lego-Lego
Sappo lego-lego yang terdapat di rumah adat Sinjai secara keseluruhan berjumlah 34 buah yang memiliki makna  rumah bangsawan atau Saoraja.



Sumber : Mahasiswa Arsitek UINAM
Tanti Asih Suryani S
Sitti Hajrah Suhartini
Radi Mega Irawan S
Muhammad Nasir
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Designed By VungTauZ.Com