Menerima Jasa Desain Rumah, Desain Interior, RAB, Pembuatan Maket, Pemasangan Pagar Besi, dan Lukisan Mininimalis. Jika Berminat HUB. 0852-5548-8091 --

------------------------------------------------------------------------------------


Menerima Jasa Pemasangan Iklan Usaha Di Blog Kami Jika Berminat Hub 085 255 488 091 Pin BB 5C64CC74---


Breaking News

Selasa, 01 Maret 2016

Antropologi Kapurung, Bugalu, dan Pagalu

"Nyamanna Buka Puasa Dengan Bugalu"
"huu Bassuna Kande Bugalu Bahh"
Kalimat pernyataan di atas sering kita jumpai saat bulan Ramadhon, terutama saat berbuka puasa di tana Luwu. Ada dua macam model bugalu yang kita kenal yaitu model bugalu Luwu bagian Selatan dan model bugalu Luwu bagian Utara. Model Bugalu Luwu bagian Selatan itu, semua bahan dicampur dalam satu wadah. Sementara model bugalu Utara yaitu ada pemisahan antara Lauk, sayur dan bugalunya. Dari dua model bugalu tersebut, kemungkinan secara antropologis bisa menjadi tolak ukur karakteristik kultur masyarakatnya.
Model Bugalu Selatan yang semua bahan dicampur aduk dalam satu wadah bisa dibaca secara antropologis bahwa Masyarakat Luwu bagian Selatan itu memiliki karakteristik kosmopolit, yaitu masyarakat yang sangat terbuka dengan keberagaman dan perbedaan. Yang beragam dan berbeda dilebur menjadi satu dengan cita rasa yang khas. Kelebihan dari karakter masyarakat seperti ini apabila keluar biasanya adalah mudah masuk dalam setiap tradisi yang dijumpainya meski tradisi masyarakat tersebut sangat berbeda dengan latar belakangnya. Tapi kelemahannya adalah Identitas-identitas kelompok masyarakatnya mengabur, ada silang identitas dan bisa jadi ada identitas yang melebur pada identitas yang dominan. Hal inilah mungkin yang menyebabkan orang bingung mengidentifikasi adat istiadat masyarakat Luwu bagian Selatan, termasuk dalam golongan suku apa? Dilihat dari adat istiadatnya maka dia adalah bugis, tapi dilihat dari bahasa kesehariannya maka dia adalah Toraja.
Sementara Model Bugalu Bagian Utara yang terpisah-pisah, seakan ingin menggambarkan karakteristik masyarakatnya yang masih syarat dengan penegasan simbol-simbol dan identitas. Terbukti sampai hari ini bagian utara luwu masih memiliki komunitas2 adat yang syarat dengan simbol dan identitas, kita mengenal masih kentalnya adat suku rongkong, seko, Wotu, pamona, padoE, dsb. Kelebihan dari karakteristik masyarakat seperti ini adalah kuat dalam mempertahankan tradisi dan identitas dirinya. Kelemahannya adalah biasanya sulit menerima akulturasi, dan bisa terjebak pada Chauvinisme.

Sumber : Syamsul Hilal

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Designed By VungTauZ.Com